Senin, 05 April 2010

Penerapan Teknologi Pengolahan Pakan Dan Pemanfaatan Limbah Pertanian Dalam Upaya Meningkatkan Hasil Usaha Ternak Ruminansia Di indonesia 

Pakan hijauan merupakan bahan pakan utama bagi ternak ruminansia, namun sejalan dengan berkurangnya lahan untuk menghasilkan hijauan pakan ternak sebagai akibat perluasan lahan untuk pemukiman dan produksi pangan, menyebabkan keterbatasan produksi pakan hijauan. Meskipun demikian, meningkatnya produksi tanaman pangan berakibat pada meningkatnya jumlah produksi limbah pertanian. Di Indonesia, salah satunya adalah limbah tanaman padi (jerami padi) yang tersedia dalam jumlah yang cukup banyak dan mudah untuk diperoleh sebagai pakan ternak. Berdasarkan kondisi yang tersebut diatas, maka untuk pengembangan ternak ruminansia di suatu daerah seharusnya dilakukan juga usaha untuk memanfaatkan limbah pertanian, mengingat sumber penyediaan rumput dan hijauan lainnya sebagai pakan sangat terbatas.
Limbah pertanian atau hasil sampingan agroindustri mempunyai peluang untuk dimanfaatkan secara optimal sebagai pakan ternak ruminansia, akan tetapi faktanya ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum limbah tersebut  digunakan seperti ketersediaan, kontinuitas pengadaan, kandungan gizi, kemungkinan adanya faktor pembatas seperti zat racun atau zat anti nutrisi, serta perlu tidaknya bahan  diolah sebelum dapat digunakan sebagai pakan ternak, selain itu permasalahan dalam pemanfaatan limbah pertanian adalah kandungan serat kasarnya yang tinggi termasuk selulosa, lignin, dan tanin yang sangat sukar dicerna oleh ternak ruminansia. 
Menindak lanjuti bagaimana mengatasi permasalahan tentang rendahnya kualitas dari limbah pertanian, diperlukan suatu upaya penerapan teknologi guna meningkatkan kualitas dari limbah pertanian yakni melalui aplikasi atau penerapan teknologi pengolahan pakan, namun perlu dicermati penguasaan teknologi untuk memanfaatkan limbah menjadi bahan pakan alternatif ini belum sepenuhnya dikuasai oleh petani peternak, untuk itu diperlukan suatu kajian awal terkait potensi limbah pertanian serta faktor yang mempengruhi penerapan teknologi pemanfaatan limbah tersebut sebagai bagian dari upaya mencari solusi alternatif untuk pengembangan teknologi maupun pengembangan wilayah melalui pemberdayaan masyarakat petani dan peternak.
Penerapan teknologi pengolahan limbah bertujuan untuk meningkatkan kualitas dari bahan pakan yang pada akhirnya nanti berdampak pada produktivitas seekor ternak yang mengkonsumsinya. Teknologi pengolahan pakan dapat dilakukan dengan berbagai cara yakni dengan cara  (1) perlakuan fisik mekanik melalui pencacahan, penggilingan, perendaman, perebusan, pelleting, dan Y-iridiasi (2) perlakuan kimia dengan menggunakan asam atau basa kuat, (3) perlakuan biologis seperti pengolahan dengan jamur, enzim, maupun dengan bolus/isi rumen, dan (4) gabungan berbagai perlakuan (Sutrisno, 1993). 
Dalam upaya penerapan teknologi pengolahan pakan, ditemui berbagai permasalahan. Permasalahan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni faktor Sumber daya manusia, faktor Sumber daya Alam dan faktor teknis yang juga memberikan kontribusi hambatan yang cukup besar dalam penerapan teknologi pengolahan limbah pertanian sebgaia pakan, sehingga semua faktor tersebut perlu dicarikan jalan keluarnya guna memecahkan permasalahan yang ada tersebut.
Faktor sumber daya manusia yang perlu dipecahkan agar tidak menjadi hambatan dalam penerapan teknologi pengolahan limbah pertanian sebagai pakan meliputi pendidikan petani peternak, motivasi, ketrampilan, persepsi, pengalaman beternak, pendapatan petani peternak, jumlah tanggungan keluarga dan frekuensi ikut penyuluhan, sedangkan faktor SDA meliputi produksi limbah, jenis limbah (padi atau palawija). Faktor teknis mempengaruhi dalam penerapan teknologi pengolahan limbah pertanian meliputi jumlah ternak yang dipelihara oleh masyrakat, karena biasanya peternakan merupakan usaha sambilan diluar usaha pokok dari peternak tersebut yakni sebagai petani. 
Pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan bukanlah suatu hal yang asing lagi bagi masrakat petani peternak. Pemanfaatan limbah pertanian dimasyarakat meliputi pemanfaatan jerami padi, jerami jagung, jerami kacang tanah, pucuk daun singkong dan berbagai hasil limbah pertanian lainnya, namun sayangnya pemanfaatan limbah pertanian tersebut tidak diiringi usaha untuk mengolah bahan dengan penerapan teknologi pengolahan bahan pakan agar hasil atau produktivitas dari seekor ternak dapat ditingkatkan.
Pemanfaatan teknologi pengolahan pakan ditingkat pedesaan boleh dikatakan hanyalah memanfaatkan teknologi sederhana yakni teknologi pengolahan pakan secara fisik dan mekanik. Para petani peternak didaerah pedesaan melakukan penerapan teknologi pngolahan pakan terkait limbah pertanian meliputi pengolahan dengan cara dicacah dan dengan cara dikering anginkan disekitar kandang ternak peliharaannya, hal ini dilakukan karena teknologi demikianlah yang hanya bisa mereka lakukan mengingat tingkat pengetahuan mereka masih sangat minim dan usaha peternakan yang mereka  miliki merupakan usaha sampingan yang hanya memiliki rata-rata dua atau tiga ekor ternak peliharaan.
Usaha peternakan didaerah pedesaan memang masih banyak memerlukan bimbingan khususnya bimbingan tentang pengolahan pakan agar para petani peternak yang bergerak disektor ini tetap terus bertahan dan dapat meningkatkan produktivitas dari ternak yang dimilikinya sehingga tingkat pendapatan yang mereka dapatkan juga meningkat karena seperti yang kita ketahui produktivitas ternak yang dimiliki masih sangat rendah, namun tidak dapat dipungkiri bahwa pasokan kebutuhan pangan yang berasal dari ternak berupa daging sebagian besar masih berasal dari pedesaan. Selain pasokan daging, banyak pula usaha-peternakan yang berskala besar memperoleh bibit atau bakalan dari petani peternak tradisonal dipedesaan. 

Minggu, 04 April 2010

Limbah Restoran

Limbah Restoran Sebagai Pakan Ternak Unggas Dengan Kombinasi Limbah Pasar Sayur Terfermentasi

Pertumbuhan subsektor peternakan masih menjumpai beberapa permasalahan, pada industri unggas penyediaan bibit dan pakan masih tergantung impor, disisi lain kapasitas produksi ayam ras masih mampu ditingkatkan lagi, hanya permintaannya sangat tergantung pada daya beli konsumen, kualitas gizi dan keamanan produk, semuanya itu merupakan peluang yang harus dimanfaatkan. Permasalahan mengenai penyedian pakan untuk meghasilkan produk pangan hewani diperlukan strategi pembangunan yang fokus pada sasaran yang tepat, fokus sasaran tersebut salah satunya adalah menyediakan sumber pakan alternatif yang tersedia dilingkungan masyarakat guna memperoleh sumber pakan baru bagi dunia peternakan, khusunya pakan ternak unggas.
Limbah restoran merupakan salah satu sumber bahan pakan yang dapat dijadikan sumber bahan pakan alternatif, namun dalam pemanfaatannya tetap dibutuhkan sentuhan teknologi karena walau bagaimanapun limbah restoran tetap memiliki kelemahan yakni saat ditampung bercampur dengan air dan membuat limbah tersebut menjadi cepat busuk dan dapat menjadi tempat berkembangnya mikroorganisme. Faktor mempengaruhi pembusukan antara lain autolitik, proses bakteriologik, dan rancidity (Afrianto dan Liviawaty, 1989). Usaha yang dapat dilakukan untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan mengawetkan limbah dengan cara pengasaman menggunakan bahan organik.
Sumber bahan organik untuk pengasaman limbah tersebut salah satunya adalah dengan memanfaatkan limbah pasar seperti kubis dan sawi. Sebagai contoh tentang ketrsediaan Limbah pasar dapat dilihat didaerah semarang. Potensi limbah pasar menurut Badan Pusat Statistik Kabupaten Semarang (2005), produksi kubis di Kabupaten Semarang mencapai 969,06 ton, sedangkan sawi mencapai 789,11 ton. Di pasar presentase sampah organik mencapai 5-10% dari berat sayur dan bila tidak dimanfaatkan dengan baik akan menyebabkan pencemaran terhadap lingkungan sekitarnya, sehingga dibutuhkan suatu pengolahan terhadap limbah tersebut. Usaha yang dapat dilakukan untuk mengolah limbah tersebut adalah dengan membuatnya menjadi ekstrak limbah pasar yang mampu menghasilkan bakteri asam laktat yang berguna bagi ternak. Pembuatan ekstrak limbah pasar yaitu mencampurkan limbah pasar dengan garam 2% dan molases 6,7% dari berat segar dan diperam selama 5 hari, hasil dari pemeraman ini menurut Mayasari (2007) menghasilkan kandungan asam organik tinggi, terutama asam laktat sebanyak 2,04%.
Penanganan limbah pangan dengan pengolahan yang tepat akan membantu mengurangi laju pertumbuhan bakteri pembusuk sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak yang non konvensional dan mendekati kualitas pakan konvensional. Penanganan limbah pangan salah satunya dengan metode penambahan asam organik dan bakteri asam laktat. Penambahan kedua bahan tersebut bertujuan untuk menghambat laju pertumbuhan bakteri pembusuk dan bakteri patogen yang ada di dalam limbah sehingga membuat limbah pangan menjadi lebih awet. Sumber asam organik dan bakteri asam laktat yang murah dan mudah pembuatannya adalah dengan menggunakan limbah pasar sayur fermentasi. Kandungan total bakteri asam laktat dalam limbah pasar sayur fermentasi sebanyak 2,1x1010 cfu/ml (Dewi, 2007).
Bakteri asam laktat aman, tidak berbahaya dan menyehatkan serta membantu dalam meningkatkan efisiensi pencernaan sehingga dapat dimanfaatkan sebagai probiotik. Pemanfaatan bakteri asam laktat sebagai probiotik sudah lama digunakan dan bermanfaat untuk mencegah beberapa penyakit dan meningkatkan kesehatan ternak (Tellez et al., 2006).
Sentuhan teknologi pengolahan pakan berupa limbah restoran sebagai pakan unggas tidak sebatas pada proses pengawetan dan proses fermentasi sehingga menumbuhkan bakteri asam laktatnnya saja, namun bentuk pakan yang akan diberikan harus disesuaikan dengan jenis ternak yang akan mengkonsumsinya, dalam hal ini pakan akan dijadikan dalam bentuk pellet dan pellet yang akan dibuat memiliki kandungan nutrisi yang disesuaikan dengan kebutuhan unggas dengan komposisi bahan pakan yang berbeda-beda serta disesuikan dengan proiode pertumbuhan unggas. Pellet ádalah bentuk massa dari bahan pakan atau ransum yang dibentuk dengan cara menekan dan memadatkan melalui lubang cetakan secara mekanis( Murtidjo, 2000).
Pemanfaatan limbah pangan dan limbah pasar sayur fermentasi membutuhkan teknolgi untuk mengolahnya menjadi bahan pakan. Salah satu cara untuk menggabungkan keduanya adalah dengan membuatnya dalam bentuk pellet. Pembuatan pakan dalam bentuk pellet menjadi pilihan untuk menyeragamkan bentuk dari bahan pakan yang dihasilkan. Pakan tambahan ternak yang berfungsi untuk mengatur keseimbangan mikroorganisme di dalam saluran pencernaan adalah probiotik, sehingga dengan adanya bakteri asam laktat yang dihasilkan oleh limbah pasar sayur fermentasi, maka pellet yang dihasilkan diharapkan menjadi pellet berprobiotik.

Senin, 11 Januari 2010

Teknologi Pengolahan Pakan

Teknologi Pengolahan Pakan Ternak Ruminansia
Teknologi pengolahan pakan bertujuan untuk meningkatkan kualitas dari bahan pakan yang akan diberikan kepada ternak yang akan mengkonsumsi pakan. Terdapat beberapa cara pengolahan limbah pertanian terkait teknologi pengolahan pakan guna meningkatkan nilai gizi limbah tersebut, diantaranya dengan (1) perlakuan fisik mekanik melalui pencacahan, penggilingan, perendaman, perebusan, pelleting, dan Y-iridiasi (2) perlakuan kimia dengan menggunakan asam atau basa kuat, (3) perlakuan biologis seperti pengolahan dengan jamur, enzim, white root fungi maupun dengan bolus/isi rumen, dan (4) gabungan berbagai perlakuan (Sutrisno, 1993).
Teknologi pengolahan pakan merupakan dasar teknologi untuk mengolah limbah pertanian, perkebunan maupun agroindustri dalam pemanfaatannya sebagai pakan, karena kita mengetahui bahwa limbah memiliki kelemahan walaupun ketersediaannya dilapangan cukup melimpah dan memiliki peluang untuk dimanfaatkan secara optimal sebagai pakan ternak. Kelemahan limbah tersebut yakni memiliki kandungan serat kasarnya yang tinggi termasuk selulosa, lignin, dan tanin yang sangat sukar dicerna oleh ternak ruminansia, dan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum limbah tersebut digunakan seperti ketersediaan, kontinuitas pengadaan, kandungan gizi, kemungkinan adanya faktor pembatas seperti zat racun atau zat anti nutrisi, serta perlu tidaknya bahan  diolah sebelum dapat digunakan sebagai pakan ternak,
Menindak lanjuti bagaimana mengatasi permasalahan tentang rendahnya kualitas dari limbah pertanian, diperlukan suatu upaya penerapan teknologi guna meningkatkan kualitas dari limbah pertanian yakni melalui aplikasi atau penerapan teknologi pengolahan pakan. Penerapan teknologi pengolahan pakan itu sendiri haruslah teknologi pengolahan yang mudah diaplikasikan mengingat penguasaan teknologi untuk memanfaatkan limbah menjadi bahan pakan alternatif ini belum sepenuhnya dikuasai oleh petani peternak, dan kita mengetahui bahwa tingkat pendidikan peternak rata-rata masih rendah, sehingga teknologi yang diturunkan kepada peternak haruslah mudah dilaksanakan dan dimengerti oleh peternak-peternak yang akan mengaplikasikan teknologi pengolahan pakan yang ingin kita canangkan.
Limbah pertanian yang sering dimanfatkan sebagai pakan ternak ruminansia adalah jerami padi, jerami jagung, jerami kacang tanah, jerami kedelai, daun ketela pohoh serta lainnya. jenis limbah perkebunan memiliki potesi yang besar untuk dimanfaatkan sebagai pakan adalah bungkil kelapa sawit, kulit nanas, kulit kopi, cacao, jerami tebu dan lain sebagainya. Silase dan amoniasi merupakan salah satu contoh penerapan teknologi dengan perlakuan secara biologi dan kimia terhadap limbah pertanian. Silase merupakan suatu proses fermentasi dengan maksud mengawetkan jerami dalam keadaan basah, sedangkan amoniasi merupakan suatu perlakuan kimia yang dilakukan untuk meningkatkan nilai gizi dan kecernaan limbah berserat tinggi (Komar, 1984).

Berikut adalah beberapa cara pengolahan limbah:
Amoniasi

Amoniasi adalah cara pengolahan pakan secara kimia yakni menggunakan amoniak (NH3) sebagai bahan kimia yang digunakan untuk meningkatkan daya cerna dari bahan pakan berserat sekaligus meningkatkan kadar N (proteinnya). Cara ini mempunyai keuntungan yaitu: sederhana, mudah dilakukan, murah (sumber  diambil dari urea), juga sebagai pengawet, anti aflatoksin, tidak mencemari lingkungan dan efisien (dapat meningkatkan kecernaan sampai 80%). Amoniak dapat membebaskan ikatan antara lignin dengan selulosa dan hemiselulosa, sehingga memudahkan pencernaan oleh selulase mikroorganisme rumen. Amoniak akan terserap dan dan berikatan dengan gugus asetil dari bahan pakan, kemudian membentuk garam amonium asetat yang pada akhirnya terhitung sebagai protein bahan.

Silase

Silase merupakan awetan segar hijauan pakan setelah mengalami proses insilase (fermentasi) oleh bakteri asam laktat dalam suasana asam dan anaerob. Untuk memacu terbentuknya suasana asam dapat ditambahkan aditif berupa bahan karbohidrat mudah dicerna, misalnya tetes, dedaki, onggok, jagung dan lin-lain. Proses ensilase dapat berlangsung sekitar 2-3 minggu, tergantung cepat tidaknya suasana asam terbentuk. Silase merupakan hijauan makanan ternak yang disiapkan dan diawetkan melalui proses fermentasi dengan tujuan agar hijauan makanan ternak yang didapatkan masih bermutu tinggi dan tahan lama serta dapat diberikan pada ternak saat musim kemarau yang panjang (Soelistyanto, 1976).
Berikut adalah contoh proses pembuatan amoniasi jerami padi dan pembauatn silase hijauan pakan:
1. Proses pembuatan amoniasi jerami padi
Bahan-bahan yang digunakan untuk proses amoniasi jerami padi adalah: jerami padi, urea, air, sedangkan peralatannya meliputi: timbangan, gelas ukur (literan), kantong plastik (disesuaikan dengan jumlah bahan yang akan diamoniasi). Metode yang akan dilakukan dalam proses amoniasi disini adalah ”Amoniasi cara basah” dengan menggunakan urea sebagai sumber amoniak (NH3).
Prosedur pembuatan:
Bahan-bahan:
- 15kg jerami padi
- 870 gram urea
- 5 liter air
Catatan: bila menggunakan drum, jerami padi yang dipakai adalah 30 kg, urea 1,74 kg, dan air sebanyak 10 liter

Peralatan:
- Timabangan
- 1 (satu) lembar plastik (180x200 cm) untuk mencampur
- 1 (satu) lembar plastik kantong (100x150 cm) rangkap atau drum bekas
- 1 (satu) ember
- 1 (satu) alat pengaduk

Cara pengerjaan:
1. kantong plastik langsung dilapisi dua dengan cara dimasukkan lembar pertama kedalam lembar kedua. Hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kekuatan plastik agar tidak bocor. Bila menggunakan drum, tidak perlu dilapisi plastik
2. seluruh jerami dimasukkan dalam kantong plastik atau drum
3. larutkan urea dengan mencampurkan 870 gram kedalam ember yang berisi 5 liter air, diaduk-aduk sampai semua urea larut.
4. siram dan campur urea tersebut (sedikit demi sedikit) pada jerami yang ada didalam kantong plastik atau drum, aduk-aduk dan sedikit dibolak-balik sampai merata seluruhnya. Kemudian jerami didalam plastik atau drum dipadatkan (sesuai kekuatan plastik atau drum).
5. selanjutnya tutup (ikat) dulu lapisan plastik pertama pada bagain atasnya, kemudian baru lapisan plastik kedua. Kantong plastik atau drum ini dapat dismpan pada tempat yang aman. Bila menggunakan drum, maka permukaan drum ditutup dengan plastik rangkap dua.
6. setelah 4 (empat) minggu, amoniasi jerami dapat dibuka. Sebelum diberikan kepada ternak jerami padi amoniasi tersebut harus diangin-anginkan selama 1-2 hari (sampai bau menyengat amoniak hilang).
Jerami padi yang telah diamoniasi dengan cara diatas mempunyai kandungan protain menjadi 2x lipat (dari 4% menjadi 9,5%) atau meningkat 100%. Kecernaan invitro meningkat dari 36% menjadi 73%, produksi VFA dan  NH3 meningkat cukup signifikan karena adanya peningkatan kecernaan dan kadar protein dari bahan pakan yang diamoniasi. Struktur dinding sel jerami padi menjadi lebih amorf dan mudah dicerna. Dalam keadaan tertutup (plastik belum dibuka/dibongkar), bahan pakan yang diamoniasi dapat tahan lama (Komar,1984).
Rumus umum perbandingan antara jumlah urea, air dan jerami padi adalah dengan perhitungan sebagai berikut:
8,7 gram urea + 1 liter air untuk setiap kilogram (Kg) bahan kering jerami padi
Jerami padi kering udara umumnya mempunyai kandungan bahan kering 70% dan kadar air 30%, sehingga dalam 100kg jerami kering udara mempunyai jumlah bahan kering 70 Kg.

2. pembuatan silase hijauan pakan
prosedur:
bahan-bahan:
- 15 kg hijauan pakan, misalnya rumput gajah
- 1 kg bekatul

Peralatan:
- Timbangan
- 1 (satu) lembar plastik (90x200 cm) untuk mencampur
- 1 (satu) lembar plastik kantong (90 x 150 cm) rangkap
- Alat pencacah hijauan (parang atau bendo)
- Tali pengikat

Cara pengerjaan:
1. layukan hijauan pakan yang baru saja dipotong selama 1 hari atau sampai kadar air lebih kurang 50-60%
2. seluruh hijauan pakan yang akan dibuat silase dipotong-potong (dicacah  ukuran 5-10cm) dan dihamparkan pada plastik ukuran 90x200cm
3. taburkan bekatul sedikit demi sedikit pada hamparan rumput yang telah dicacah secara merata dan diaduk-aduk.
4. masukkan hijauan yang sudah dicampur dengan bekatul kedalam kantong plastik, kemudian padatkan dan ikat dengan erat. Usahakan tidak ada rongga udara didalam plastik dan plastik tidak boleh bocor.
5. proses ensilase akan berlangsung lebih kurang selama 3 minggu dan setelah itu akan berhenti, hijauan pakan akan awet dan dapat dismpan lama
6. pembukaan atau pemanenan silase tergantung kebutuhan, artinya jika pakan segar sudah susah dicari maka silase merupakan cadangan hijuan segar yang bisa digunakan. Dalam pemberian pada ternak selayaknya diangin-anginkan terlebih dahulu agar bau asam menyengat hilang, utamanya padi perah, bau silase ini jika tidak diperhatikan akan mempengaruhi kualitas dari air susu.
Penerapan pengolahan pakan selain mampu meningkatkan kualitas dari suatu bahan pakan, sebenarnya juga untuk mengatasi permalahan atau problematika penyadiaan  pakan diIndonesia, terutama terkait dengan maslah iklim karena pada musim kemarau pakan sangat sulit sekali didapatkan, sedangkan pada musim penghujan ketersediaannya melimpah, terutama pakan jenis hijauan, sehingga diperlukan suatu upaya aplikasi teknologi seperti pembuatan silase hijauan pakan untuk stok ketersediaan pakan dimusim kemarau. Selamat mencoba dan sukses buat peternakan diIndonesia!!!!!!!!!






Jumat, 08 Januari 2010

prospek peternakan

PROSPEK BIDANG PETERNAKAN DIMASA DEPAN

Pendahuluan
Manusia memerlukan bahan pangan untuk menunjang kelangsungan hidupnya. Bahan pangan berguna untuk membangun sel – sel tubuh dan menjaga agar tetap sehat dan berfungsi sebagaimana mestinya. Bahan pangan adalah bahan yang memungkinkan manusia tumbuh dan berkembang serta mampu beraktivitas dan memelihara kondisi tubuh. 
Permintaan dunia terhadap pangan hewani (daging, telur dan susu serta produk olahannya) sangat besar dan diproyeksikan akan meningkat sangat cepat selama periode tahun 2005−2020 mendatang khususnya di negaranegara sedang berkembang. Penduduk dunia saat ini sekitar 6,3 milyar dan diperkirakan meningkat sebanyak 76 juta jiwa setiap tahunnya. Dari jumlah penduduk tersebut, sekitar 5,3 milyar (84%) diantaranya berdomisili di negara-negara sedang berkembang yang rata-rata tingkat konsumsi protein hewaninya relatif sangat rendah.
Indonesia termasuk negara sedang berkembang, dengan jumlah penduduk sekitar 212 juta jiwa dengan laju pertumbuhan ratarata 1,5% per tahun serta peningkatan pendapatan per kapitanya sekitar 3% per tahun. Dari jumlah penduduk tersebut tentunya membutuhkan pangan hewani yang cukup besar dan diproyeksikan meningkat sangat cepat dimasa mendatang. Peningkatan kesejahteraan masyarakat dan kesadaran masyarakat tentang pentingnya protein hewani juga ikut mendorong meningkatnya permintaan terhadap pangan hewani.
Untuk memenuhi permintaan tersebut, produksi ternak domestik belum mampu untuk mencukupinya, sehingga harus dipenuhi melalui impor yang cenderung semakin meningkat dari tahun ke tahun. Tanpa impor, terjadi pengurasan ternak lokal atau konsumsi protein hewani akan menurun secara signifikan. Tuntutan akselerasi pembangunan peternakan untuk memenuhi permintaan produk peternakan yang sangat cepat disatu sisi dan kondisi nyata kinerja pembangunan peternakan yang belum optimal, perlu diformulasikan melalui strategi dan kebijakan yang komprehensif, sistematik, terintegrasi baik vertikal maupun horizontal, berdaya saing, berkelanjutan dan terdesentralisasi.
Pada akhirnya, kecukupan pangan (protein hewani) yang berfungsi menyehatkan dan  mencerdaskan kehidupan bangsa, agribisnis berbasis peternakan yang merupakan salah satu pilar pembangunan sosial ekonomi, pemanfaatan dan pelestarian sumber daya peternakan yang seimbang, merupakan blue print pengembangan peternakan di masa mendatang.

Produk Peternakan

Produk hasil ternak merupakan bahan pangan yang sangat penting bagi rakyat selain bahan pangan pokok rakyat (beras). Sebagai pendamping sajian makan sehari-hari, bahan pangan hewani merupakan sumber protein penting (selain protein nabati) yang sangat berperanan dalam pemenuhan gizi masyarakat. Secara tradisional, sejak dahulu, masyarakat kita sudah menyandingkan produk pangan hewani ini dalam menu makanan sehari-harinya. Produk pangan hewani umumnya berupa daging, susu, telur dan ikan yang sangat kaya dengan protein. Protein ini juga mengandung asam amino esensial yang sangat sesuai dengan kebutuhan manusia.
Produk hewani sangat penting, hal ini berkaitan asupan kalori-protein yang rendah pada anak balita menyebabkan terganggunya pertumbuhan, meningkatnya resiko terkena penyakit, mempengaruhi perkembangan mental, menurunkan performans mereka di sekolah dan menurunkan produktivitas tenaga kerja setelah dewasa. Kasus malnutrisi yang sangat parah pada usia balita dapat menyebabkan bangsa ini mengalami loss generation. Akibat berikutnya adalah rendahnya daya saing SDM bangsa ini dalam percaturan global antar bangsa.
Daging merupakan salah satu jenis hasil ternak yang hampir tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Sebagai bahan pangan, daging merupakan sumber protein hewani dengan kandungan gizi yang cukup lengkap. Dengan meluasnya konsumsi daging, sehingga telah banyak bentuk hasil olahan yang berasal dari daging seperti daging korned, sosis, dendeng, abon dan daging asap dan lain-lain. Bentuk-bentuk pengolahan ini pada dasarnya sangat dipengaruhi oleh tingkat ekonomi yang mengolahnya sehingga hasil olahan tersebut dapat juga.

Upaya Penyediaan Pangan Hewani  di Indonesia

Upaya peningkatan ketersedian pangan menjadi program pemerintah yang sangat sulit dilakukan, terutama dalam bidang peternakan yang berhubungan dengan swasembada daging  hal ini terkendala masalah penyediaan bibit, modal serta SDM, lebih dari 90 persen ternak sapi dipelihara oleh sekitar 6,5 juta rumah tangga di pedesaan dengan pengetahuan peternakan yang minim. Banyak dari peternak sapi potong itu juga telah berusia tua, dengan tingkat pendidikan lulusan sekolah dasar sehingga pengetahuan mereka pun terbatas. 
Sulitnya memenuhi pangan hewani berupa daging tercermin pada awal pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla, program swasembada daging sapi ditargetkan pada tahun 2005, kemudian direvisi menjadi tahun 2010. Namun, tahun 2010 hal itu juga tidak akan tercapai karena tidak mungkin dalam dua tahun ditambah populasi bibit sapi 1 juta ekor. Selain tidak ada dana, bibit juga tidak ada. Menteri Pertanian sebelumnya, Anton Apriyantono, mengakui, program swasembada daging sapi gagal dicapai,gagalnya program swasembada daging sapi karena laju pertambahan populasi kalah cepat (Kompas, 9/9/2009).
Departemen Pertanian menargetkan swasembada daging sapi secara bertahap pada tahun 2014. Melalui sejumlah program, penyediaan daging sapi dari dalam negeri diproyeksikan meningkat dari 67 persen pada tahun 2010 menjadi 90 persen pada 2014. ”Dengan berbagai upaya ini, populasi sapi potong ditargetkan meningkat dari 12 juta ekor pada tahun 2009 menjadi 14,6 juta ekor pada tahun 2014,” kata Suswono. Hal ini disampaikannya saat memaparkan rencana strategis kecukupan daging sapi 2010-2014 dalam seminar nasional pengembangan ternak potong untuk mewujudkan program kecukupan/swasembada daging di Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Sabtu (7/11).

Peluang dan Tantangan Peternakan di Indonesia
Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2025 diperkirakan mencapai 273,7 juta jiwa. Demikian dikatakan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan/Kepala Bappenas saat menyebutkan proyeksi penduduk Indonesia tahun 2000-2025 (Kompas, 3/8/2005). Dengan jumlah penduduk sebesar itu Indonesia merupakan pasar yang luar biasa besar. Namun sayangnya, kita masih sangat tergantung pada bahan impor. Setiap tahun Indonesia mengimpor sapi hidup sebanyak 450 ribu ekor dari Australia. Setiap tahun negara agraris ini mengimpor 1 juta ton bungkil kedele, 1,2 juta ton jagung, 30 ribu ton tepung telur dan 140 ribu ton susu bubuk. Importasi bahan pangan tersebut menguras devisa negara cukup besar.
Sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar keempat negara di dunia, Indonesia termasuk pasar potensial bagi negara-negara lain. Produksi dalam negeri belum mampu memenuhi kebutuhan konsumsi produk peternakan. Hal ini merupakan tantangan besar dalam penyediaan bahan pangan hewani sebagai sumber protein yang dibutuhkan oleh masyarakat. Saat ini konsumsi protein hewani penduduk Indonesia masih sangat rendah yakni 4,5 gram/kapita/hari, sementara konsumsi protein hewani masyarakat dunia adalah 26 gram/kapita/hari (Han, 1999). Peningkatan konsumsi protein hewani dapat dipacu dengan meningkatkan pendapatan rumahtangga dan kesadaran gizi masyarakat.
Untuk memicu pertumbuhan subsektor peternakan masih dijumpai beberapa permasalahan. Pada industri unggas penyediaan bibit dan pakan masih tergantung impor. Pada industri ruminansia besar, sumber bibit yang menghandalkan usaha peternakan rakyat tidak mampu memenuhi permintaan yang terus meningkat, dan industri pakannya belum diusahakan dengan baik. Terbatasnya infrastruktur dan perdagangan ternak hidup tanpa kendali berpeluang penyebaran penyakit dan tidak terjaminnya kualitas dan keamanan produk. Dari sisi konsumsi, terjadi senjang penawaran dan permintaan, khususnya pada daging sapi sehingga harus dipenuhi dari impor. Di sisi lain, kapasitas produksi ayam ras masih mampu ditingkatkan lagi, hanya permintaannya sangat tergantung pada daya beli konsumen, kualitas gizi dan keamanan produk. Semuanya itu merupakan peluang yang harus dimanfaatkan. Untuk mengatasi permasalahan diperlukan strategi pembangunan yang fokus pada sasaran yang tepat. Fokus sasaran meliputi komoditas dan wilayah yang akan dikembangkan.
Kebutuhana konsumen terhadap produk peternakan sangat tinggi terutama daging sapi, ini dapat dilihat dari kebutuhan akan produk peternakan jika dilihat dari pangsa konsumsi, sekitar 48,3% daging yang dikonsumsi adalah daging unggas, 26,1% daging sapi, dan sisanya terdiri dari daging jenis ternak lain. Ini berarti selera konsumen terhadap daging sapi cukup potensial. Dengan pertumbuhan penduduk yang meningkat rata-rata 1,5% per tahun dan pertumbuhan ekonomi meningkat dari 1,5% sampai 5,0% pada tahun 2005, diperkirakan konsumsi daging sapi akan meningkat dari 1,9 kg/kapita/tahun menjadi 2,8 kg/kapita/tahun pada tahun 2005. Jika dikaitkan dengan ketentuan Pola Pangan Harapan, seharusnya konsumsi daging masyarakat Indonesia sebanyak 10,1 kg/kapita/tahun. Ini berarti dari sisi permintaan masih cukup potensial untuk ditingkatkan.
Peningkatan permintaan terhadap produk peternakan membuka peluang bagi pengembangan usaha peternakan lokal dengan skala agribisnis melalui pola kemitraan. Sistem agribisnis peternakan merupakan kegiatan yang mengintegrasikan pembangunan pertanian, industri, dan jasa secara simultan dalam suatu kluster  industri yang mencakup empat subsistem, yaitu subsistem agrisbisnis hulu, subsistem agribisnis budi daya, subsistem agribisnis hilir, dan subsistem jasa penunjang. Kemitraan merupakan kegiatan kerja sama antarpelaku agribisnis mulai dari tingkat praproduksi, produksi hingga pemasaran, yang dilandasi azas saling membutuhkan dan menguntungkan di antara pihak-pihak yang bekerja sama, dalam hal ini perusahaan dan petani-peternak untuk saling berbagi biaya, risiko, dan manfaat.
Untuk meningkatkan peran hasil ternak sebagai sumber pemasok bahan pangan hewani dan pendapatan peternak, disarankan untuk menerapkan sistem pemeliharaan secara intensif dengan perbaikan manajemen pakan, peningkatan kualitas bibit yang disertai pengontrolan terhadap penyakit. Perbaikan reproduksi khususnya dilakukan pada sapi potong yakni dengan IB dan penyapihan dini pedet untuk mempersingkat jarak beranak. Untuk memperbaiki mutu genetik, sapi bakalan betina diupayakan tidak keluar dari daerah pengembangan untuk selanjutnya dijadikan induk melalui grading up. Peningkatan minat dan motivasi peternak untuk mengembangkan usahanya dapat diupayakan melalui pemberian insentif dalam berproduksi.

KESIMPULAN
Subsektor peternakan memiliki peluang yang sangat besar untuk dikembangkan diIndonesia, hal ini tercermin dari jumlah permintaan produk peternakan seperti daging, telur dan susu yang terus meningkat. Selain itu dengan semakin bertambahnya jumlah penduduk diIndonesia, membuka peluang usaha potensial yang berkaitan dengan penyadiaan pangan hewani, karena bertambahnya jumlah penduduk, maka bertambah pula akan permintaan produk hewani seperti daging, telur, dan susu.
Sumber:
Artikel Ekonomi Nusantara, edisi jum’at 08 Mei 2009. ( Konsumsi Daging di Indonesia Rendah) / (cha/JPNN)
Kompas, 2004. Badan POM: Angka Keracunan Makanan Selama Tahun 2004 Meningkat, 11 Oktober 2004 http://kompas.com/kompas cetak/04104/11/daerah/1317750.htm [4 November 2004]
Hadi, P.U. dan N. Ilham. 2002. Problem dan prospek pengembangan usaha pembibitan sapi potong di Indonesia. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pertanian 21(4): 148− 157.
Kompas, 2009. Swasembada Daging Sapi 2014. 09 November 2009. http://m.kompas.com. November 2009
Prossiding. seminar nasional pengembangan ternak potong untuk mewujudkan program kecukupan/swasembada daging. Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Sabtu (7/11/2009).





Sabtu, 19 Desember 2009

Pakan Lokal dan Limbah Pertanian sebagai Pakan Sapi Potong

Pakan Lokal dan Limbah Pertanian Sebagai Pakan Sapi Potong

Oleh: Marhadi


Indonesia merupakan negara beriklim tropis, penyediaan bahan makanan ternak dalam jumlah dan kualitas yang cukup sepanjang tahun kiranya sulit dipenuhi, sehingga perlu sistem pengaturan atau pengawetan hijauan secara baik. Tetapi sampai saat ini rupanya masih terjadi kekurangan penyediaan makanan ternak berupa hijauan, terlebih pada para petani peternak. Hal tersebut bisa dimaklumi karena berbagai faktor penghambat, seperti: terbatasnya modal dan areal tanah, serta rendahnya pengetahuan yang dimiliki para peternak.

Pakan hijauan merupakan bahan pakan utama bagi ternak ruminansia, termasuk ternak sapi potong, namun sejalan dengan berkurangnya lahan untuk menghasilkan hijauan pakan ternak sebagai akibat perluasan lahan untuk pemukiman dan produksi pangan, menyebabkan keterbatasan produksi pakan hijauan. Meskipun demikian, meningkatnya produksi tanaman pangan berakibat pada meningkatnya jumlah produksi limbah pertanian. Berdasarkan kondisi yang tersebut diatas, maka untuk pengembangan ternak ruminansia terutama ternak sapi potong di suatu daerah seharusnya dilakukan juga usaha untuk memanfaatkan limbah pertanian, mengingat sumber penyediaan rumput dan hijauan lainnya sebagai pakan sangat terbatas.
Selain ketersediaan lahan hijauan yang terbatas, modal, iklim yang kurang mendukung, dan meluasnya areal pemukiman penduduk, sebenarnya hal yang melatar belakangi mengapa kita harus memanfatkan pakan lokal dan limbah pertanian sudah tercermin pada saat terjadi resesi ekonomi pada tahun 1997 dimana banyaknya jumlah para peternak yang tidak bisa meneruskan usaha peternakannya dan terpaksa harus menutupi usahanya tersebut akibat melonjaknya harga pakan import. Pada awal resesi ekonomi tersebut pemerintah berupaya melakukan impor bahan pakan guna memenuhi kebutuhan peternak akan pemenuhan pakan diantaranya jagung, kedelai, tepung ikan dan lain sebagainya, sehingga lambat laun harganya semakin mahal dan para peternak tidak bisa menutupi output yang semakin besar yang akan dikeluarkan sebagai biaya produksi. Dari latar belakang tersebut sudah semestinya kita memanfaatkan pakan lokal dan limbah pertanian sebagai pakan, terutama bagi ternak ruminansia termasuk ternak sapi potong, bahkan sudah semestinya juga kita mulai memikirkan bagaimana memanfaatkan pakan lokal dan limbah pertanian sebagai pakan selain ternak ruminansia.
Sebagai alternatif yang bisa memecahkan persoalan mengenai pakan, kita didorong untuk berpikir kreatif dan berusaha menggali segala potensi yang ada guna memecahkan persoalan tersebut diantaranya dengan memanfaatkan potensi pakan lokal dan pemanfaatan limbah pertanian sebagi pakan ternak. Pemanfaatan pakan lokal dan limbah pertanian perlu diterapkan oleh petani peternak diIndonesia guna memecahkan persoalan mengenai pakan, dan untuk itulah diperlukan suatu penelitian lebih lanjut oleh para ahli peternakan sehingga dapat mensejahterakan kehidupan para petani peternak di Indonesia.
Pakan lokal merupakan sumber bahan pakan yang terdapat disekeliling masyarakat petani peternak. Pakan lokal yang akan dimanfaatkan sebagai sumber pakan alternatif tersebut tentu saja harus memenuhi kriteria baik ditinjau dari aspek nutrisi, ekonomi, sosial budaya, dan haruslah pula memperhatikan tingkat keberlanjutannya sehingga dapat menjadi sumber bahan pakan yang terus tersedia, murah, mudah didapatkan, tidak menimbulkan polusi, dan masih sesuai dengan budaya masyarakat, sehingga nantinya mudah untuk diterima dikalangan masyarakat tersebut.
Limbah pertanian atau hasil sampingan agroindustri mempunyai peluang untuk dimanfaatkan secara optimal sebagai pakan ternak terutama ternak ruminansia, khususnya sapi potong, hal ini berhubungan dengan kondisi masyarakat yang bersifat agraris, sehingga sumber limbah pertanian hampir dapat dijumpai diseluruh Indonesia. Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum limbah tersebut digunakan seperti ketersediaan, kontinuitas pengadaan, kandungan gizi, kemungkinan adanya faktor pembatas seperti zat racun atau zat anti nutrisi, serta perlu tidaknya bahan diolah sebelum dapat digunakan sebagai pakan ternak, selain itu permasalahan dalam pemanfaatan limbah pertanian adalah kandungan serat kasarnya yang tinggi termasuk selulosa, lignin, dan tanin yang sangat sukar dicerna oleh ternak ruminansia termasuk sapi potong.(19/12/09)

Jumat, 04 Desember 2009

Nutrisi Dan Makanan Ternak

Nutrisi Dan Makanan Ternak
Oleh: Marhadi
Program studi Nutrisi Dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro (UNDIP) diresmikan pada tanggal 8 desember  tahun 1984 dengan dikeluarkannya Surat Kepeutusan Menteri Pendididkan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 0551/0/1983 tanggal 8 Desember 1983. 
Program studi Nutrisi Dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro (UNDIP) merupakan suatu program studi pada jurusan Nutrisi Dan Makanan Ternak yang lebih spesifik mempunyai Ciri Khas Kompetisi Utama yaitu menguasi dasar-dasar ilmiah dalam bidang peternakan berkondidisi tropika sehingga mampu menemukan, memahami, menjelaskan dan memutuskan cara penyelesaian, khususnya masalah-masalah budidaya produksi pakan, tekhnologi pengolahan pakan dan manejemen pakan.
Lulusan Nutrisi Dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro (UNDIP) diharapkan dapat menjadi sumber daya manusia yang dapat terus mengembangkan ilmu Nutrisi Dan Makanan Ternak melalui berbagai penelitian dan pengkajian Ternak Khususnya Pakan Ternak, mampu menerapkan ilmu pengetahuan dan keterampilan pada bidang Nutrisi Makanan Ternak dalam kegiatan produktif dan pelayanan kepada masyarakat dengan sikap dan perilaku yang sesuai dengan tata kehidupan bersama, mampu mengikuti  perkembangan Ilmu pengetahuan dan tekhnologi dibidang peternakan khususnya bidang nutrisi makanan ternak. 
Dalam persaingan dan tantangan hidup yang semakin ketat yang dihadapi oleh bangsa Indonesia, mahasiswa lulusan peternakan khusunya Nutrisi Dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan, Universitas Diponegoro (UNDIP) semakin didorong untuk memperluas cakrawala keilmuan, pengetahuan dengan memberikan kontribusi yang nyata dalam pembangunan nasional. Sesuai dengan peran dan fungsi mahasiswa sebagai kekuatan pendobrak bangsa sekaligus sebagai kontrol sosial, maka diharapkan tidak hanya menjadi insan yang terpelajar yang menguasai bidang akademis saja, tetapi juga diharapkan mampu  mengaplikasikannya dalam kehidupan bermasyarakat.
Berbicara mengenai Nutrisi Dan Makanan Ternak maka lebih baiknya juga apabila menjelaskan tentang Fakultas Peternakan mengingat peranannya yang begitu besar. Peranan Fakultas Peternakan sangat penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia yakni menciptakan sarjana-sarjana peternakan. Fakultas peternakan merupakan bagian dari sebuah sistem pendidikan nasional dalam penyediaan pangan/protein bagi masyarakat  indonesia.
Berhubungan dengan kondisi masyarakat yang bersifat agraris,  Peternakan merupakan salah satu sub sektor penting dalam dunia usaha. Suatu hal yang mendasari mengapa Peternakan begitu penting tercermin pada peranannya yang mengacu pada penanganan masalah mendasar yaitu ancaman penurunan populasi, khususnya ternak besar, terjangkit atau timbulnya kembali hewan dan manular, belum optimalnya sistem kesehatan masyarakat veteriner, ancaman masuknya produk-produk impor, penurunan kualitas, dan mutu bibit, juga adanya ketergantungan terhadap bahan pakan impor, serta yang paling penting adalah peternakan merupakan penyedia protein hewani yang sangat dibutuhkan oleh manusai, untuk itulah dibutuhkan tenaga ahli dibidang peternakan dengan didirikannya Fakultas Peternakan.
Saya Bangga Kuliah diPeternakan...;.!!